
Allah menjanjikan berlimpah kebaikan di dalam pernikahan. Pandangan mata yang dahulu jelalatan, Allah tundukkan dengan kebaikan pernikahan. Akhlak yang ketika masih melajang begitu amburadul balakaciprut, perlahan Allah tuntunkan hidayah perbaikan dengan kebaikan pernikahan. Bahkan kepemelukan seorang muslim terhadap agamanya, tidaklah sempurna hingga ia menggenapkannya dengan memasuki jenjang pernikahan.
Namun, kebaikan pernikahan ini perlahan namun pasti terdistorsi seiring beredarnya beragam informasi sesat tak bertanggung jawab yang digulirkan secara rapi nan sistematis. Dari informasi sesat itu para muda-mudi diajak untuk tidak memedulikan diskusi tentang pernikahan. Merebaklah soft campaign tentang hidup lajang-bahagia. Dengan pendekatan perspektif, pihak-pihak tak bertanggung ini mengajak para muda-mudi untuk menikmati masa muda mereka. Mereka bersembunyi di balik spanduk mentereng modernisasi.
"Yang nikah cepet itu kuno, ini jaman modern, semua kekunoan itu harus ke laut!"
Imbasnya, merebaklah tempat-tempat dugem, hang out, spot nongkrong. Apa pun untuk mengalihkan perhatian muda-mudi dari usaha konkret memersiapkan diri menuju jenjang perkawinan.
Semakin lama, keasyikan ini menjadi tren di kalangan muda-mudi. Mereka lupa jika bilangan umur terus bertambah, sedangkah jatah usia semakin menuju penghabisan. Ketika disampaikan wacana untuk mulai membangun rumah tangga, mereka tercengang, paling tidak merasa enggan untuk mulai memikirkannya.
"Aku Males Nikah, Mah!"
Jelas, mereka masih ingin bersenang-senang. Tak pelak mereka hanya mampu membayangkan bahwa menikah adalah hantu bertombak garpu yang akan merenggut kebebasan mereka selama ini. Akbiatnya, orangtua merekalah yang dipusingkan.
"Eleuh-eleuh... Si Eneng kenapa atuh gak mau kawin? Kan Ambu udah pingin momong cucu..."
Si Ambu rupanya tidak sendirian, ia mewakili ribuan bahkan jutaan orangtua yang bernasib tak kalah berbeda. Inilah kenyataan, fakta yang seharusnya membuka mata siapa saja yang masih peduli dengan minimal keselamatan masyarakat terkecil kita, keluarga.
Dan rupanya, kasus serupa juga pernah terjadi pada jaman Rosululloh, namun dengan alasan yang sangat jauh berseberangan. Muda-mudi sekarang enggan menikah karena alasan yang telah di ulas di atas. Sedangkan seorang sahabat dari rombongan tiga sahabat yang pernah bertamu ke rumah Rosululloh, sempat menyatakan diri untuk tidak menikah, setelah mendapatkan penjelasan dari istri nabi tentang bagaimana sifat Rosul dalam beribadah. Mendapati kekeliruan dalam penyikapan, Rosul segera menyanggahnya dengan sabdanya:
“Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku ber-buka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai Sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5063), Muslim (no. 1401), Ahmad (III/241, 259, 285), an-Nasa-i (VI/60) dan al-Baihaqi (VII/77) dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu.
Adapun seorang sufi wanita, Robi'ah Al-Adawiyyah, yang sampai akhir usia memutuskan untuk tidak menikah, adalah karena kecintaannya yang sangat kepada Allah hingga muncul kekhawatiran tidak mampu bersikap adil terhadap suami dan anak-anak jika kelak ia memutuskan diri untuk menikah. Kisah beliau adalah satu pengecualian. Dan Islam tetap tidak pernah menyarankan muslim-muslimah untuk tetap melajang selamanya.
Jadi jika si bocah rupanya enggan menikah bukan karena cintanya kepada Allah, melainkan karena termakan propaganda pesan-pesan modernisasi, apa yang harus dilakukan kemudian?
- Para orangtua, introspeksi dirilah...
Baik diakui atau tidak, wajah generasi sebuah bangsa adalah cerminan pola pendidikan keluarga. Memang lingkungan dan tren global mengambil juga jatah sekian persennya, akan tetapi kembalilah kelurga yang pada akhirnya menjadi penentu akhir. Seorang anak yang pulang bermain membawa oleh-oleh kosakata jorok, itu adalah racun bagi dirinya dan bagi siapa pun yang mendengarnya. Fungsi keluargalah menetralisir racun itu dengan nasihat terbaik.
Memahami ini, seyogyanya para orangtua mulai kembali memfungsikan keluarga sebagai "madrosatul ula", sekolah yang pertama dan utama. Para orangtua sepatutnya mulai mengingat kembali jika kebutuhan anak bukan sekedar sehat jasmani, jauh lebih penting dari itu adalah sehat rohani.
Jadi, para ayah, sebelum berangkat bekerja, apakah Anda menyempatkan diri membekali anak-anak Anda dengan nasihat-nasihat Agama? Mengingatkan ini-itu? Menganjurkan mereka untuk menghapal satu atau sekian ayat Al-Quran di sela jam main mereka? Dan selepas jam kerja nanti apakah Anda memprioritaskan diri untuk segera pulang ke rumah? Percayalah, Anda punya PR besar untuk mendidik anak-anak paham dienul Islam.
Jadi, para ibu, apakah selama ini karir pekerjaan yang lebih Anda pentingkan? Di mana dan sedang apa anak-anak Anda ketika Anda di kantor merayakan pengumuman promosi jabatan? Apakah selama ini Anda lebih tenang memasukan anak-anak Anda ke dalam kelas-kelas penyaluran bakat? Anda berkilah itu juga demi masa depan mereka. Ya, tentu, masa depan duniawi mereka. Lalu bagaimana dengan masa depan hakiki mereka di akhirat? Anda tolong diam untuk menjawabnya bukan dengan lisan tapi dengan perubahan kongkret, dengan fakta-fakta yang mendukung jika Anda masih mencintai mereka, menghendaki mereka selamat di akhirat.
- Mulai bangun komunikasi hati ke hati
Apa pun masalahnya belum terlambat jika kita punya itikad baik untuk membuat semua menjadi lebih baik. Alih-alih menghujat hingga mengutuk pendirian si anak karena enggan menikah, mulai bangunlah pendekatan dari hati ke hati. Islam agama yang lembut yang dengan kelembutan itu mampu meluluhkan kerak kekerasan hati, maka sampaikan kebenaran Islam tentang anjuran menikah dengan kelembutan pula.
- Bermunajatlah...
Selain Anda dianjurkan untuk mulai membangun komunikasi dari hati ke hati kepada anak Anda, Anda pun disarankan untuk membangun komunikasi serupa kepada Allah. Semaksimal apa pun Anda mengarahkan dan meluruskan cara pandang anak Anda, tanpa melibatkan Allah, maka ini adalah kesalahan besar. Melompati Allah dalam segala jenis urusan, tanpa melibatkannya dalam doa-doa penuh kesyahduan, adalah kekeliruan dalam beragama. Maka libatkan Allah, lantunkan doa-doa terbaik Anda.

0 comments:
Post a Comment