
Wahai calon bidadari surga...
Iya Anda, siapa lagi coba?!
Anda yang selama ini bersabar untuk tidak pacaran, untuk tetap menjaga kesucian diri, yang kemarin baru saja move on menuju pelaminan, ada sepucuk surat dari timur jauh yang isinya tiada bermaksud lain kecuali sekedar mengikatkan Anda sekaligus berharap kebaikan atas pernikahan Anda. Berharap berakhir dengan husnul khotimah.
Mari berkilas ke belakang. Pada tanggal dan hari bilamana Anda menikah, renungkan jika hari itu bukan hanya hari terindah milik Anda, tapi sekaligus menjadi hari pengujian keimanan Anda jilid dua. Pada hari itu Anda menyaksikan seseorang yang tidak terlalu Anda kenal, hanya sempat beberapa kali bertegur sapa, tiba-tiba ia menawarkan diri untuk menjadi imam bagi kehidupan Anda. Anda kaget bukan buatan. Seutuhnya Anda hanya berharap akan mendapatkan kesakinahan dan dua saudaranya di belakang: mawaddah wa rohmah. Hati dan segenap jiwa seakan melayang, membayangkan kehidupan perkawinan bersamanya akan selalu sempurna dan menyenangkan.
Namun realistislah wahai ukhti. Faktanya Anda dan dia adalah dua jiwa dan raga yang berbeda. Sebanyak apa pun titik persamaan yang berhasil anda munculkan, toh perbedaan sedikitlah yang kemudian hari menjadi biang pemicu konflik. Anda dan dia memang sudah berbeda sejak awal, Terima fakta ini untuk kemudian Anda simpan di tempat tertinggi penerimaan.
Berangkat dari kelegaan hati untuk menerima segenap perbedaan inilah awal munculnya pusat energi kesakinahan. Jelas ini butuh waktu dan proses. Jalani saja dengan alamiyah, tanpa rekayasa.
Sampai di sini, satu bagian telah Anda lewatkan, Selamat! Namun jangan terlena sebab bagian lain tengah menunggu Anda dan itu akan jauh lebih menantang. Perhatikan baik-baik. Tolong, jangan sampai ada yang mengantuk bacanya.
Wahai ukhti, percayakah jika pada hakikatnya Anda(walau tak semua), memberlakukan praktek poligami terhadap suami Anda itu?, lebih tepatnya poliandri: wanita dengan dua suami. Anda masih tidak merasa? Bisa jadi memang Anda tidak melakukannya, tapi sebagian dari Anda yang lainnya bisa jadi melakukannya tanpa kesadaran penuh.
Di satu dimensi, Anda memang terlihat hanya memiliki satu suami, namun di dimensi yang lain, pada hakikatnya sebagian dari Anda menduakan suami Anda. Bahkan suami dunia nyata Anda itu adalah suami kedua Anda. Sungguh ironis, bukan?
"Lalu dimana suami pertama saya?!"
Anda tak akan kesulitan menemukan suami pertama Anda karena pada hakikatnya suami pertama Anda adalah ego Anda sendiri. Ya, ego Anda sendiri.
Sesuai pengalaman, sering ego wanitalah yang menghalanginya untuk mau taat kepada suami. Ego Andalah yang membuat Anda setengah hati menjadi makmumnya, mengamini untuk setiap doanya dan memenuhi untuk setiap keperluannya tanpa syarat.
Wahai ukhti, ini masalah besar, taruhannnya tidak tanggung-tanggung. Anda memertaruhkan keridhoan suami. Bukankah tiket surga Anda ada dalam ridhonya?
Wahai ukhti, mengapa Anda melawannya? Apakah desakan ego mendominasi sikap Anda kepadanya? Apakah Anda bangga ketika Anda membuatnya terdiam? Membuatnya seakan menjadi lelaki paling merugi sedunia?
Wahai ukhti, apakah Anda belum cukup merasa berdosa hingga pada akhirnya suami Anda menyimpan amarah dalam diamnya? Maka diamnya membuat para malaikat melaknat Anda, membuat ibadah-ibadah Anda tertolak sampai batas waktu ia akhirnya kembali memaafkan Anda.
Janganlah wahai ukhti, mengulang keegoisan yang sama. Hati suami Anda sudah terlalu lelah dan terluka untuk kembali menerima tikaman yang sama di titik yang sama. Luka bertumpuk luka.
Jadi, jika Anda masih tetap berharap surga, masih tetap berkehendak menjadi penghulu bidadari di sana, ceraikan suami pertama Anda sekarang juga!
Oh, maaf tidak semudah itu ya? Butuh proses menuju ke sana? Baiklah jika begitu. Tapi jangan diambil hati ya? Sekali lagi ini sekedar peringatan. Bisa jadi isu suami pertama Anda itu sekedar rekaan dan terlalu mengada-ada. Anda sendiri yang berhak menilainya. Atau bahkan Anda punya sanggahan sendiri? Mari kita diskusikan...
sumber gambar: cdn0-a.production.liputan6.static6.com/
Jangan pula ketinggalan untuk membaca salah satu contoh dinamika di lapangan terkait "suami pertama ini" di sini: WhatsApp & Dinamika Pernikahan.
Jangan pula ketinggalan untuk membaca salah satu contoh dinamika di lapangan terkait "suami pertama ini" di sini: WhatsApp & Dinamika Pernikahan.

0 comments:
Post a Comment