Setelah Sakinah


Bismillaah...

Wahai sidang pembaca DISNIMUSA, dalam surat Rum ayat 21:

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kerpadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang. sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."


Allah menjanjikan akan menurunkan kesakinahan di tengah keluarga muslim. kesakinahan telah menjadi mantra suci yang otomatis akan terucap dari siapa saja yang menjumpai dua sejoli dalam hajatan pernikahan.

Namun pernahkah kita berpikir seperti apa sebenarnya indikator dan fungsi hadirnya kesakinahan dalam masing-masing keluarga?

Apakah kesakinahan itu sama dengan suami yang merasa tenang tinggal di rumah? Bola matanya tidak jelalatan mencari istri dengan variabel n+1?

Apakah kesakinahan itu identik dengan dapur yang terus mengebul hingga berasap-asap? Suami naik jabatan? Atau bisnis moncor?

Bisa saja indikator di atas mensyaratkan telah hadirnya kesakinahan, karena kebercukupan harta memang salah satu janji Allah kepada siapa pun yang telah menyempurnakan dien bagi dirinya (An-Nuur:32).

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak(berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurniaNya. Dan Allah maha luas (pemberiannNya) lagi maha mengetahui",

Okelah kita asumsikan semua keberlimpahan yang menyertai kita setelah kita menikah adalah salah satu indikator hadirnya kesakinahan, namun rupanya seperti halnya domain urusan muslim yang lainnya, bahwa kesakinahan itu tetaplah menjadi mata ujian yang harus kita sikapi dengan kesyukuran.

Mengapa? Karena kesakinahan tanpa kesyukuran akan berakhir dengan ancaman pencabutan kesakinahan itu sendiri di masa mendatang, baik cepat atau pun lambat.

Lalu seperti apa langkah nyatanya bagi siapa saja yang ingin melanggengkan kesakinahan rumah tangganya hingga sampai pada akhir masing-masing kita akan kembali kepadaNya?

Kesyukuran boleh diartikan apa saja.

Kita mendapatkan rejeki berlebih tahun ini dan hendak menyatakan kesyukuran diri dengan mengadakan jamuan makan bagi para tetangga?

Atau kita mendapati buah hati kita lulus dengan predikat cum laude atau mumtaz, lalu kita berminat untuk mengadakan kembali jamuan makan yang kali ini diperuntukkan bagi anak-anak panti asuhan?

Maka, jika makna kesyukuran yang masih terpahami sekarang adalah berbagi pangan kepada sesama, maka itu tak mengapa. Tak ada yang salah dengan kebaikan sosial itu. Yang kemudian  menjadi salah adalah jika kita berasumsi memberi makan orang adalah satu-satunya jalan kesyukuran. Yang menjadi salah adalah jika cara pandang dan keilmuan Islam kita yang tetap berada di tempat yang sama setelah kita menjalani tahun-tahun berlalu di kehidupan fana ini. Menuanya kita tidak lantas selaras dengan peningkatan ilmu dan amal.

Dan seperti itu yang terjadi di dalam rumah tangga. Kesakinahan yang Allah turunkan ke tengah-tengah keluarga haruslah disyukuri dengan keilmuan yang lebih baik.

Pada hakikatnya, apa pun jenis karunia Allah, sebaik-baiknya sikap syukur seorang hamba kepada Allah adalah peningkatan ketakwaan. Jadi, kesakinahan itu harus dibarengi dengan peningkatan ketakwaan diri bagi setiap anggota keluarga.

Keberlimpahan harta harus dibarengi dengan keberlimpahan amal.

Pada akhirnya, kesakinahan itu tidak seharusnya berhenti dan dinikmati oleh anggota keluarga bersangkutan. Kesakinahan keluarga harus terus menyebar dan disebarkan untuk menjelma menjadi kesakinahan dalam lingkungan RT, RW, dan seterusnya. Hingga harapan semua, kumpulan kesakinahan ini akan menciptakan bangsa yang sakinah, bangsa yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, bangsa karunia Allah.

Alloohumma Aamiin...

sumber gambar: solospiritislam.com/


0 comments:

Post a Comment