Bismillaah...
Wahai sidang pembaca DISNIMUSA (DISkusi NIkah MUda SAkinah), bicara tentang mendidik anak, bukanlah sekedar membahas tentang bagaimana mengaplikasikan satu demi satu trik dan tips aplikatif dari sepaket metode parenting buah pikir dan pengalaman hidup Ayah Edi.
Mendidik anak pada hakikatnya adalah memerjalankan kehidupan pernikahan itu sendiri dalam cakupan luasnya. Topik ini bukan melulu tentang bagaimana anak pada akhirnya mau menuruti segala perintah, instruksi, anjuran, dan nasihat orangtua, baik dalam keadaan terpaksa atau pun suka cita.
Memang ada seni mendidik anak yang dalam beberapa kasus mungkin berhasil dengan kesuksesan besar. Pada akhirnya memang itu target besar kita. Tapi mungkin apa yang selama ini kita upayakan dalam kegiatan mempraktekkan tips dan trik mendidik anak hanyalah bersifat kasuistik. Kita belum paham cakupan holistiknya. Ini mengapa banyak orangtua lebih sering memfungsikan diri sebagai ORANGTUA BERKACA MATA KUDA.
Orang tua berkaca mata kuda? Siapa mereka?
Yaitu mereka yang terlalu mengedepankan ego diri untuk mendapatkan apa yang mereka ingin dan kehendaki dari kehidupan si anak. Mereka adalah para ayah yang lantang menurunkan perintah: "Ayah ingin kamu jadi seorang hafidz!, Ayah ingin kamu bisa lolos seleksi beasiswa!, Ayah mau kamu tahun ini masuk pesantren!", dan perintah-perintah yang senada itu.
Mereka juga adalah para ibu yang resmi menjadi sosok paling menyebalkan dalam pikiran si anak. Ini karena Anda terlalu sering berteriak: "Ibu gak ingin liat kamu pacaran lagi!, Ibu gak suka kamu tunda-tunda waktu untuk mulai berjilbab!. Ibu hanya minta kamu untuk sedikit sholihah!"
Tentu selama apa yang menjadi ego orangtua terhadap anak itu adalah ego-ego positif, ego-ego pengarahan menuju pribadi muslim/muslimah sejati, paling tidak dalam pandangan orangtua, tidak ada yang salah dengan itu semua. Namun akan mendadak bersalah jika cara dan pendekatan yang Anda gunakan benar-benar mewakili istilah orangtua berkaca mata kuda itu. Satu-satunya hal penting yang menjadi perhatian besar Anda hanyalah bagaimana pesan perintah itu sampai. Peduli amat anak merasa keberatan atau marah sekali pun.
Jangan! Janganlah kita menjadi sosok orangtua berkaca mata kuda. Jika Anda sudah terlanjur mengenakan kaca maca pendidikan seperti itu, mari kita mulai sama-sama dari nol. Mari kita berangkat dari mana kita memulai karir sebagai orangtua: seorang pria dan wanita yang menikah.
Anda yang pria, ketika menikah semoga telah paham jika Anda punya hak yang sekaligus menjadi kewajiban Anda untuk mendidik pasangan, menghantarkannya penuh kasih menuju mardhotilah sejati. Jika istri Anda masih tergagap dalam tilawah, maka temani ia dalam cinta di setiap pengoreksian bacaan ayatnya.
Perbaikilah dengan kelembutan di setiap kekeliruannya. Sampaikan dengan kedamaian hati dan ucapan penuh kesantunan jika perubahan menuju perbaikan adalah proses panjang melelahkan, tapi Anda berjanji akan setia menemaninya dalam memerjalankan setiap tahapan episode.
Anda yang wanita, ketika memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria, semoga telah paham jika Anda punya hak mendapatkan setumpuk pengajaran, sekumpulan pengarahan, dan sepaket bimbingan terbaik dalam upaya dia menghantarkan Anda mendapat gelar bidadari surga.
Anda boleh memintanya jika selama ini ada kekosongan peran mulia itu di sana. Pintalah dengan senyuman termanis dan tutur kata yang terjaga. Giliran pada bagian kewajiban, Anda hanya diminta untuk taat kepadanya, sesulit apa pun dirasa. Selama kehendaknya masih selaras dengan dien Islam, penuhi permintaannya karena Anda tak punya alasan sedikit pun untuk menolaknya.
Sampai di sini, apakah Anda sudah mulai menangkap pesan besar dari dua paragraf di atas? Bahwa ada prinsip hak dan kewajiban yang harus Anda junjung tinggi dan dahulukan dalam upaya Anda mendapatkan keberhasilan dalam pendidikan, bukan hanya pendidikan dalam sifatnya yang horizontal(suami ke istri), tapi juga pendidikan dalam sifatnya yang vertikal(orang tua ke anak).
Prinsip pemenuhan hak dan kewajiban inilah yang akan membawa proses pendidikan dalam coraknya apa pun menuju keberhasilan hakiki.
Perhatikanlah fakta yang terjadi di lapangan. Apakah Anda pikir anak balita Anda yang belum pernah mendapatkan sosialisasi prinsip hak dan kewajiban ini belum akan memahaminya hingga batas umur tertentu? Percayalah, mereka lebih cepat paham dari yang Anda kira. Mereka mendapatkan kepahaman ini secara cepat-alamiah karena mereka juga punya hati dan perasaan layaknya manusia seutuhnya.
Jika Anda pernah mendapatkan pengalaman betapa sulitnya si bocah untuk sekedar memenuhi permintaan sepele Anda: tidak jajan sembarang, tidak memukul adiknya dengan gagang sendok, atau tidak menumpahkan air ketika minum, mungkin Anda selama ini memang belum memahami prinsip yang sedang kita bahas ini. Dan sedihnya, ketidak-pahaman ini membuat Anda selalu melakukan kesalahan serupa. Anda sudah terlalu sering mengedepankan hak Anda terhadap mereka ketimbang Anda memenuhi dahulu kewajiban Anda.
Berharap kejadian serupa tak terulang, mari kita mulai mencicil untuk mulai membayar satu per satu utang kelalaian kita selama ini. Perhatikanlah untuk kemudian renungkan dan lakukan setiap saran berikut:
- Tak ada lagi topeng "Ayahku Monsterku"
- Buktikan jika Anda tidak hanya "omdo"
- Koreksi diri untuk keberhasilan yang tertunda
- Anak Anda = Raja Anda (rentang umur tertentu)
Anda yang selama ini cenderung otoriter, pasti punya keyakinan "perintahku terbaik untukmu". Hasilnya, pesan perintah Anda lepas begitu saja dari lisan tanpa sedikit pun terlebih dahulu Anda mengupayakan pendekatan dari hati. Selama ini Anda pikir cara lama Anda itu sudah terlalu efektif untuk membuatnya memenuhi segala permintaan Anda?
Selamat, Anda telah mendapatkan apa yang Anda pinta. Anak Anda patuh seratus persen! Sebagai gantinya, maka terimalah hadiah kado penuh tipuan. Bungkusnya rapi menjanjikan isinya yang berharga. Padahal isi kado itu adalah setumpuk dinamit dan Anda boleh membukanya kapan saja.
Pada tanggal Anda membukanya, meledaklah dinamit itu. Ia meledak untuk mengabarkan kepada Anda akan segala jenis kejujuran yang sudah terlanjur berganti wajah dan rupa. Satu per satu mulai terungkap segala kekecewaan, ketertekanan jiwa, dan penolakan.
Jadi, dekatilah hatinya untuk mengawali semuanya. Bangun diskusi, lucuti topeng "ayahku monsterku" dari wajah Anda. Beri dia pengalaman pertamanya mendapati Anda sebagai ayah yang beda, yang lebih penyayang dan pengertian dari sebelumnya.
Jika pada gilirannya muncul selisih pendapat, janganlah lekas marah, ambillah perbedaan itu sebagai pelajaran pertama Anda jika harapan Anda kepadanya memang harus menempuh rute baru, yang selama ini Anda begitu merasa asing terhadapnya.
Berkaca dari isi ayat ke dua surat As-Shof ini: "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?", maka hasilnya betapa banyak praktek pelanggaran yang dilakukan banyak orangtua terhadap anaknya.
Orangtua rupanya terlalu tergesa-gesa mengarahkan jari telunjuk perintah ke wajah si anak tanpa pernah terbesit sedikit pun untuk memutar arah perintah ke muka sendiri. Wal hasil, walau tidak kentara di permukaan, tidak pula terdengar di telinga, akanlah muncul protes si anak:
"Ayah menyuruhku menjadi hafidz tapi kenapa tak pernah aku mendapatinya turut menghapal Qur'an?"
"Jika memang Ibu serius dengan perintah berjilbabnya, tanya mengapa ibu sendiri membiarkan rambutnya tergerai bebas?"
"Mengapa ayah-ibuku memintaku apa yang mereka sendiri tidak melakukannya?"
Maka jadikan diri Anda yang pertama melakukannya. Buktikan jika Anda tidak "omdo". Cara ini akan menghilangkan segala keresahan si anak, menghapus semua pertanyaan lirihnya, menghilangkan tuntutan hati terdalamnya jika orangtua juga patut melakukan yang sama.
Pengejawantahan prinsip keseimbangan dalam pemenuhan hak dan kewajiban ini sudah pada jalurnya, namun kenyataannya Anda belum terpuaskan. Anak-anak masih saja menampakkan sikap pemberontakan. Sesulit apa pun Anda menahan diri, pada akhirnya amarah itu sering muncul tak terkendali. Maka apa yang salah dengan semua ini?
Tidak ada yang salah sama sekali. Proses itu hanya masih berjalan. Mendidik anak dengan penuh kelembutan adalah sebuah proses panjang. Anda tidak dibenarkan memangkas proses itu sekedar ingin mendapatkan bukti keberhasilan lebih cepat dari yang insya Allah Anda dapatkan di waktu alamiahnya. Bukti keberhasilan akan matang pada waktunya.
Selain itu, alih-alih menunggu kapan janji keberhasilan itu tiba, baiknya kita koreksi diri. Barangkali Allah menunda hasil itu karena kita masih jauh dariNya. Dalam pandangan Allah, barangkali kita belum pantas mendapatkan kebaikan dari anak-anak sholeh dan sholihah. Jadi marilah kita pantaskan diri kita menjadi orang tua yang sholeh dan sholihah, mendahului kesholehan dan kesholihahan mereka.
Percaya atau tidak jika anak Anda yang nakal itu, yang sering mengesalkan itu adalah raja yang harus anda hormati? Percayalah!
Sepintas memang terkesan tak adil. Sepertinya para orangtua di luar sana segera melayangkan protes tak setuju. Bukankah ini terbalik? Orangtua seharusnya yang mengambil posisi raja, bukan?
Walau dirasa janggal, namun seperti itulah nasihat yang keluar dari lisan seorang Ali Bin Abi Thalib kw. Beliau mengingatkan kita akan tiga fase penting hubungan orangtua-anak.
- Fase pertama, umur anak: 0-7 tahun. Ini fasenya anak anda adalah raja Anda. Lupakan prinsip keseimbangan hak dan kewajiban itu karena Anda diminta untuk lebih banyak memenuhi hak mereka. Penuhi saja permintaan mereka.Jika anak Anda menghendaki Anda menjadi kuda tunggangan, penuhi permintaannya dan buktikan jika punggung Anda masih kuat untuk menerima beban tubuh mungilnya. Jika anak Anda mengajak Anda masuk ke dunianya, walau itu membuat Anda terlihat bodoh dan konyol, maka demi kebaikan jangka panjang, penuhi saja tanpa syarat apa pun.Namun permintaan mereka bukan berarti anti sanggahan. Di balik layar, dalam skenario utuhnya, Anda masih tetap kok berposisi sebagai orangtua mereka. Maka jika dirasa permintaan mereka di luar kesanggupan Anda, jangan ragu-ragu untuk bernegosiasi.
- Fase kedua: umur anak 7-14 tahun. Ini fasenya anak Anda menjadi tawanan Anda. Lupakan pula prinsip keseimbangan hak dan kewajiban itu karena Anda diminta untuk mulai terkesan "otoriter" yang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang.Ini adalah fase emas pengarahan, fase emas instruksi. Pada fase ini Anda diharapkan mampu mengalirkan segenap pemahaman ilmu agama yang Anda miliki, kecakapan dalam hidup, termasuk pengalaman Anda mengatasi beragam masalah. Gunakan sebaik mungkin fase ini.
- Fase ketiga: umur anak 14 tahun ke atas. Ini fasenya anak Anda menjadi teman karib Anda. Apakah ini kabar baik bagi Anda atau malah kabar buruk? Yang pasti, di fase ini Anda diminta untuk mengaplikasikan prinsip "berpikir sebelum melakukan".Usaha apa pun yang Anda lakukan untuk menjaga hubungan pertemanan Anda dengan seseorang agar tetap baik, lakukan yang sama kepada anak Anda. Tampakkan sikap dan kesan kepadanya jika Anda tidak ingin kehilangan teman dekat Anda. Di fase ini ada tenggang rasa yang harus anda dahulukan dari apa pun. Dalam kesempatan diskusi bersamanya, pendapat Anda dan pendapatnya punya kesetaraan yang sama-sama harus dihargai.
Akhirnya, tulisan ini kiranya masih jauh dari sempurna. Empat saran di atas mungkin masih belum bisa melucuti sepenuhnya kaca mata kuda kita, karena memang masih ada poin nasihat yang terlewatkan. Atau bahkan Anda kurang setuju dengan solusi yang ditawarkan? Baiknya mari kita diskusikan bersama...
photo credit: intisari-online.com


0 comments:
Post a Comment