Dan Godaan Pun Menyapa Hai...

Bismillaah... wa a’uudzbillaah min syarri nafsii wa min maa aquulu maa laa af’alu

Sahabat Disnimusa, apa yang Anda harapkan dari sebuah pernikahan? Banyak? Jika demikian sebutkanlah beberapanya? Anda yang hingga detik ini masih menjomblo ingin segera mendapatkan ketengan hati? Anda yang hingga detik ini dilanda kesengsaraan ekonomi dan ingin segera mendapatkan janji kemapanan? Anda yang sudah rindu menimang buah hati dari darah daging sendiri? Apa lagi coba yang Anda harapakan dari sebuah pernikahan?

Dan segala harapan Anda tentang pernikahan, dengan sebaik-baiknya harapan kepada Allah, pasti dikabulkan. Anda akan mendapatkan ketenangan hati hidup bersama belahan jiwa Anda,



“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Ruum: 21)

Anda akan mendapatkan kondisi keuangan penuh kesejahteraan dalam janji pernikahan,



Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nuur: 32)




Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk".(Ali Imron: 36)



“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh".(Ali Imron: 38-39)

Masalahnya kemudian, kadang pikiran kita terlalu picik untuk mendapatkan semua janji Allah pada kurun-kurun awal pernikahan. Kita tidak ingin mendapatkan janji-janji itu secara bergiliran. Yang kita mau seringkali mendapatkan semua janji Allah sekaligus, instan. 

Padahal rintikan air hujan yang turun dari langit hingga mengecup tanah di bumi itu butuh waktu. Padahal nabi Yusuf untuk dapat bersanding dengan Siti Zulaikho itu butuh waktu, hingga salah satu dari keduanya ada yang kuat menahan gejolak hati dan satu lainnya berlaku kebalikan. Padahal Siti Sarah untuk dapat menimang Ishak butuh waktu hingga datangnya masa-masa renta itu (Adz-Dzaariyat: 28-29). 

Padahal Allah butuh kepastian jika kita memang layak mendapat karunia janji-janji itu. Bahkan bersama karunia itu Allah menyisipkan ujian-ujian kehidupan, karena sejatinya karunia itu juga amanah yang akan dimintai pertanggung-jawaban kelak di hari ketika bumi yang kita pijak ini tergantikan dengan bumi yang lain.

Padahal dengan pernikahan, Allah hendak mentarbiyah, mendidik setiap pasangan untuk mencapai derajat ketakwaan pada bagian mana derajat itu tidak bisa diperoleh ketika kita masih resah menjombo.

Anda yang muslim, dengan pernikahan, Allah hendak mendidik Anda menjadi imam keluarga tersaleh sedunia bagi istri Anda. Dan tentu Anda butuh waktu untuk sampai ke target itu. Anda mulai memerbaharui keyakinan Anda tentang Din Islam ini. Anda mulai memerbaiki tingkat pemahaman Anda terhadap ilmu syariat Islam. Perlahan Anda membongkar dan beralih dari segala ideologi ghoiru (selain) Islam menuju ideologi Islam seutuhnya tanpa perlu menyisipkan simpangan-simpangan pemikiran nyeleneh. Pada akhirnya jika janji Allah dalam pernikahan ini hanya akan Anda dapatkan di kilometer ke lima ribu pernikahan, maka mengapa Anda memutuskan berhenti di kilometer ke limanya?

Anda yang muslimah, dengan pernikahan, Allah hendak mendidik Anda menjadi istri tersalehah sedunia bagi pasangan Anda, sekaligus ibu terbaik bagi anak-anak Anda. Dan tentu untuk sampai ke dua taget itu, Anda butuh waktu untuk berproses. Anda butuh waktu untuk hanya memprioritaskan kehendak suami(selama dalam koridor Islam) di atas kehendak diri, bahkan orangtua Anda. Anda butuh waktu untuk membunuh ego diri. Anda butuh waktu memahami bagaimana caranya mencurahkan perhatian dan memberlakukan pola pendidikan akhlak Islam terbaik bagi buah hati Anda. Dan yakinlah, janji Allah itu pasti terjadi, hanya kita yang terlalu terburu-buru untuk meminta buah kebaikan matang sebelum waktunya.

Hingga pada akhirnya, jika skenario Allah dalam mematangkan buah kebaikan dalam pernikahan ini meminta Anda waktu lebih dalam berproses, itu pun sekedar memastikan apakah Anda masih tetap memeluk erat iman dan ketakwaan hingga ajalnya(batas waktu tertentu), ternyata Anda sekali ini gagal lagi bersiasat dengan hawa nafsu. Anda didesak rasa ketergesaan. Anda mulai menuntut janji-janji itu dan mulai memertanyakannya. Perlahan bibit buruk sangka kepada Allah tumbuh sejengkal, sehasta, sedepa, hingga akhirnya menjelma bak gulma keimanan.

Gulma keimanan itu membuyarkan fokus proses perbaikan diri. Gulma keimanan memaksa Anda untuk terus mengindahkan suara-suara hawa nafsu. Para imam keluarga mulai hilang fokus pandangan dari Al-Qur’an menuju pandangan kepada lawan jenis. Para istri mulai hilang fokus dari menjadikan sepetak rumah mungil kontrakan sebagai surga keluarga kepada brosur-brosur kredit rumah berriba. Hak anak mendapatkan perhatian dan pendidikan terbaik dari orangtua buyar. Biduk pernikahan itu limbung diterpa penyakit hedonisme karena memang goda dunia telah menyapa hai...

Sungguh disayangkan jika gulma keimanan ini tumbuh semakin subur kian hari di tengah visi-misi keluarga Islam. Namun jika memang gulma keimanan ini berhasil menancapkan akar tunggangnya, mengapa tidak kita mulai untuk menyianginya? Mengapa tidak kita babat habis gulma keimanan ini?, hingga kita dapati rumah kita kembali bersih dan siap untuk ditanami benih-benih baru keimanan dan ketakwaan.

Tak ada kata terlambat untuk kembali menetapi proses perbaikan yang sudah kita mulai sejak mitsaqon gholizho itu terucap hingga terdengar oleh penduduk langit. Waktu sia-sia untuk memikirkan kandidat istri kedua, baiknya dihapus dari bingkai waktu keseharian seorang imam keluarga karena terang kita masih bertumpuk kelemahan diri untuk menghadirkan wajah poligini di tengah dinamika kehidupan pernikahan islami. 

Kita yang bapak-bapak bahkan belum bergerak sepenuhnya dari kewajiban-kewajiban menuntut ilmu agama. Hapalan Al-Quran kita belum bergerak dari juz 30, bahkan kita hanya mampu melafalkan fasih surat Al-Ikhlas, dan terkenallah kita sebagai Mister Qulhu. Kita belum mengkhatamkan bab-bab ilmu fiqih, sejarah Islam. Belum pula kita menambah pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda Nabi. Maka tak ada kata terlambat untuk menjadikan rumah-rumah kita sebagai majlis ilmu dan dzikir bagi diri dan keluarga kita.

Waktu sia-sia memikirkan kulkas dua pintu yang belum terbeli, mesin cuci, kitchen set, furnitur, kendaraan keluarga, hingga rumah idaman, baiknya perhatian ke sana tak perlu sampai menggangu fokus kita melaksanakan kewajiban sebagai istri dan ibu. Percayalah, dalam kesederhanaan ada tingkat ketenangan batin yang tidak bisa dibeli oleh uang fiat. Jika memang segala perabot dapur itu tak terbeli, semoga ada imbalan kesabaran Anda di akhirat. Jika memang rumah di dunia tidak terbeli, mengapa kita tidak berharap mendapatkan rumah hakiki di akhirat, sebagaimana yang pernah dimintakan seorang Siti Asiyah kepada Allah,



Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (At-Tahriim: 11)

Tak lupa, sandarkan semua upaya ini kepada sepenuhnya prinsip isti’anah, menggantungkan ikhtiar diri hanya kepada Allah. Ucapkan sesering mungkin lafaz hauqollah ( laa haula walaa quwwata illaa billah), karena kita tidak pernah percaya diri dengan kekuatan sendiri, kita hanya percaya kepada pertolongan Allah. Dan karena pula kita tidak sedang merealisasikan cita-cita kecil. Kita sedang merealisasikan cita-cita besar.  Kita sedang mengupayakan terciptanya titik-titik ketakwaan dari setiap rumah keluarga Islam. Titik-titik itu perlahan saling terjalin membentuk jejaring ketakwaan sosial, tatanan masyarakat bertakwa  hingga kita Allah mampukan masuk ke surga-Nya dalam kebersamaan itu,



Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya".(Az-Zumar: 73)

Alloohumma aamiin...

sumber gambar:http://www.fluentu.com/

0 comments:

Post a Comment