Cinta yang Selalu Bertepuk Sebelah Tangan




Pasangan hidup adalah satu dari tiga misteri kehidupan selain tentang rejeki dan mati. Kita tak akan pernah tahu siapa yang di kemudian hari akan kita boyong ke atas pelaminan. Siapa yang di kemudian hari akan menjadi orang terdekat kita melebihi kedekatan kita terhadap orangtua atau teman karib.

Beberapa orang bernasib mujur. Bagai peribahasa "Pucuk di cinta ulam tiba", gayung itu bersambut. Pengajuan cinta Anda diterimanya dengan suka cita dan selang beberapa minggu kemudian Anda pun mengikat janji setia, akan menjaganya, menyayanginya, dan mendidiknya menuju keridhoan Allah. Maka selesailah upaya pencarian Anda di sana.

Namun, bagaimana halnya dengan teman Anda di pojok itu?, yang bernasib tak seberuntung Anda. Cinta doi tertolak sudah. Tak berhati, sang targetan menjerumuskannya ke dalam sekawanan komunitas jomblo ngenes. Seketika hilang asa dan alasan untuk tetap hidup dan menyambut hari baru.

Namun  untunglah, Teman Anda itu masih punya iman di dada. Sekecil apa pun kadar keimanan itu, ia lebih mengedepankan keimanannya ketimbang terus menggugu perasaan gulanahnya. Ia tak mau begitu saja mengalah. Tak mau juga menjual akhirat untuk dunia. Tak mau terpuruk lebih lama lagi. 

Akhirnya ia bangkit dengan segala upaya perbaikan. Niat dan harapannya satu: mendekatkan diri kepada Allah. Ia sadar selama ini ia banyak melalaikan banyak hal-hal penting dalam statusnya sebagai hamba Allah. 

Teman Anda itu mulai memerbaiki kualitas ibadahnya, baik mahdhoh maupun ghorul-mahdhoh. Ia bekerja lebih giat. Ia suka jika waktu senggangnya digunakan untuk kegiatan produktif, hapalan Quran, membaca buku, dan bersilaturahmi. Tapi ia juga tak ingin berbohong jika ia masih merindu, seumpama Sang Adam merindukan Sang Hawa. Kapan kiranya Mr/Miss Right itu datang dengan senyuman terindahnya?

Segala upaya promosi dan pendekatan personal sudah dilakukan, tapi lagi-lagi sang targetan yang dipandangnya sebagai jodoh ideal menolaknya. Ada yang salah dengan sepaket upaya ini? Ia bermuhasabah dan pelik ia cari apa lagi yang kurang. Sepertinya semua persyaratan dalam rangka taqorrub ilallooh sudah ia penuhi. Ia kini bahkan banyak bersedekah, nasihat pelancar jodoh yang lambat diterimanya. 

Ia mulai mendekati cermin. Ia teliti setiap jengkal tubuhnya, jangan-jangan ada yang salah setting di sana. Wajahnya, pundaknya, postur fisiknya secara keseluruhan, dan mendapat nilai delapan. Itu skor nyaris sempurna. Dari sana ia mulai menyadari satu hal bahwa jika selama ini ia terlalu mengamini kehendak hati. Teman Anda itu hanya akan move on, melancarkan aksi PDKT kepada seseorang hanya jika targetan mengandung muatan kemistri, jika tidak ada kemistri ya move off jadinya. Semua penilaian diukur dengan firasat diri.

Janganlah demikian. Baik-buruknya suatu urusan hanya Allah yang tahu. Apa-apa yang kita anggap baik, bisa jadi itu buruk dalam pandangan Allah, dan sebaliknya. Dan ajaibnya, ini juga berlaku untuk urusan jodoh. Maka mulai sekarang, jangan terlalu menjadi pemilih. Tak masalah jika pada akhirnya siapa pun tak bersanding dengan Mr./Miss Right. Lupakan imajinasi tentang Mr./Miss Right jika mengingatnya siapa pun malah jadi tidak produktif. Mulai carilah targetan alternatif, targetan KW 1 atau KW 2. Tak jadi soal jika skor akhirnya jauh di bawah targetan nomor satu yang ori itu. Yang penting siapa pun bisa segera menggenapkan diennya. Tak baik berlama-lama sendiri di jaman di mana penjahat media getol mengubar aurat lawan jenis tanpa merasa bersalah.

Cari dan dekati para pemeran fungsi Mak Comblang di mana pun mereka berada. Susuri segenap penjuru bumi. Bisa jadi Mak Comblang itu ternyata kawan dekat sendiri, pak ustadz, bu ustadzah, atau bahkan orang tua. Siapa tahu mereka punya banyak stok tak terduga!, yang selama ini rupanya terlewatkan begitu saja. Siapa pun tinggal pilih. Di sinilah butuh kedewasaan, sikap menerima, dan berharap kebaikan kepada Allah supaya Allah dekatnya siapa pun dengan jodoh yang telah menjadi janjiNya.

sumber gambar: toptenpack.com

0 comments:

Post a Comment