Bismillaah...
Anda baru menikah?
Sudah tinggal di rumah sendiri?
Syukurlah, tapi berapa banyak pasangan muda yang harus terlebih dahulu merasakan bagaimana baper-nya hidup di pondok mertua indah. Berapa banyak dari mereka yang harus bermain kucing-kucingan dengan ibu pemilik kosan atas tunggakan uang sewa yang belum terlunasi.
Karena keberadaan rumah sebagai tempat tinggal adalah kebutuhan pokok dari sebuah ikatan keluarga, maka wajar saja jika istri Anda merengek ingin segera punya rumah sendiri.
Jadi, haruskah para suami mendengarkan rengekan mereka?
Ah, bukan hanya tentang rumah, para suami bahkan harus mau pasang telinga mendengarkan apa pun objek rengekan para istri. Jadilah pendengar rengekan yang baik dan budiman bagi mereka.
Dan seperti biasa, dengan begitu lihainya Anda bermanuver. Anda kembali merangkai kata bak pujangga, mencatut ayat bak pak ustadz.
Anda memberikan pengertian yang baik kepada mereka jika rumah yang hakiki adalah rumah yang dipintakan oleh Siti Asiyah kepada Allah, bukan rumah fatamorgana di atas bumi, seperti yang termaktub dalam Surat At-Tahrim ayat 11:
"Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim."
Ini bukan kali pertama Anda menjawab pertanyaan serupa, pun bukan kali pertama istri Anda mendapatkan jawaban serupa. Istri Anda kini mulai bisa menyanggah untuk menguatkan persepsi.
"Tapi kalo kita masih tinggal sama mertua, kan target punya anak hapal Qur'an sebelum mereka baligh pasti molor, Mas. Gimana mau menghapal Qur'an kalo tv terus nyala saban hari. Ibu Mas tuh getol amat liat sinetron Si Boy Anak Jalanan. Kan gak enak juga minta Ibu matikan tv-nya."
Anda berpikir dan memang benar adanya. Selama tinggal menempel bersama orangtua, maka visi-misi luhur keluarga Islam bakalan berantakan di tengah jalan. Apalagi Anda sekeluarga yang punya hajat ingin punya anak-anak penghapal Qur'an.
Bukan hanya istri, Anda sebenarnya sudah sama-sama kebelet ingin punya rumah sendiri, namun kembali, kondisi keuangan masih berkata itu tidak mungkin terlaksana dalam waktu dekat.
Anda pun berdoa, mengharap kemudahan dalam rejeki dan keberlimpahan dalam berkah. Bukan hanya itu, Anda pun terus berusaha memantaskan diri sebagai pribadi yang layak mendapat kesejahteraan lahir-batin.
Dan jika sampai datangnya waktu kepantasan itu, pilihlah rumah yang baik, baik dalam pandangan dunia dan akhirat.
Berikut beberapa poin penting yang selayaknya menjadi pertimbangan Anda dalam memilih rumah:
1. Pegang prinsip utama "Baitii Jannatii"
Ini bukan tentang seidah apa rumah itu dipandang mata zahir, tapi ini tentang bagaimana Anda sekeluarga menghidupkan cahaya Islam dalam rumah tangga.
Di mana pun nantinya Anda sekeluarga akan menetap, seperti apa pun kondisi dan tipe rumah itu, bawalah serta kesholihan keluarga yang sudah Anda rintis sejak dini.
Bahkan seharusnya tingkatan kesholihan itu dapat semakin bertumbuh karena kini tidak ada lagi penghalang bagi Anda untuk mencapai target tertinggi visi-misi keluarga Islam.
2. Penentuan lokasi
- Rumah yang dekat ke mesjid Selaras dengan prinsip "baitii jannatii" di atas, jarak antara rumah dan mesjid terdekat sebaiknya berada dalam radius seratus meter. Mesjid adalah pusat peribadatan umat muslim. Muslim yang taat tentu akan memburu keutamaan pahala sholat wajib berjamaah di mesjid.
- Rutinitas mereka dalam menjaga keistiqomahan, mereka yang pergi berbondong-bondong ke mesjid, bergantian mengambil air wudlu. Pemandangan ini akan memancarkan aura ketakwaan. Rumah yang dekat mesjid diharapkan akan tertulari aura positif ini.
- Di mana tercipta aura ketakwaan, menyingkir jauhlah segala jenis aura kefujuran. Imbasnya, kejiwaan anak akan terkondisikan. Anak-anak akan mudah dikendalikan dan diarahkan. Akan menyata suasana terbaik dalam mendidik anak.
- Rumah yang jauh dari jalan raya Jalan raya cukup identik dengan tingginya intensitas laju lalu-lintas kendaraan. Fakta ini berhubungan erat dengan upaya orangtua dalam melindungi anak-anak dari ancaman kecelakaan yang melibatkan kendaraan bermotor.
- Dalam waktu bersamaan, sekaligus menghidarkan anak-anak dari pengaruh negatif sumber-sumber kebisingan dan keramaian.
- "Memang apa salahnya keramaian?"
- Keramaian mengambil andil besar sebagai penghasil derau dan keriuhan. Derau dan keriuhan inilah tersangka utama perusak fokus anak-anak dalam menerima bimbingan orangtua.
- Rumah dengan keberlimpahan air bersih Bukan hanya untuk alasan istinja, air bersih terlalu diperlukan untuk keberlangsungan hidup itu sendiri. Jadi carilah lokasi rumah yang mendukung dengan saran ini. Kawasan perindustrian seperti komplek pabrik, jelas harus dibuang jauh dari daftar pilihan.
- Hindari lokasi rumah soliter
- Di beberapa lokasi, terkadang Anda mendapati rumah yang dijual dengan harga relatif murah namun berada pada posisi yang "nyempil", terpisah dari kawanan rumah lainnya.
- Posisi rumah seperti ini menjadi sasaran empuk para pencuri spesialis rumah soliter.
- Baiknya hindari mengambil rumah di lokasi tersebut jika Anda tidak ingin berurusan dengan para kriminal yang kadang tak segan melukai.
- Tak peduli apa pun pendekatan si penjual rumah untuk membuat kesepakatan penjualan, baiknya Anda abaikan saja.
- Jangan pernah menelan begitu saja janji-janji manis keamanan karena barangkali orang tersebut tengah menutupi sesuatu dari Anda. Jangan pernah coba-coba ambil resiko kehilangan. Hilang harta masih ada gantinya, hilang nyawa?
- Ah, tapi juga Anda bukan berarti haram mengambil rumah dengan ciri lokasi seperti itu karena ancaman pencurian ini tidak kekal. Siapa tahu di tahun-tahun mendatang lokasi tersebut sudah mulai berubah.
- Akan ada lebih banyak rumah yang dibangun di sekelilingnya. Ada sistem keamanan swadaya yang telah berfungsi. Maka jika sang penjual masih menunggu pembeli, ambil saja rumah itu!
3. Jika bisa, bayarlah kontan!
Mengapa harus kontan? Karena dengan mencicilnya, kita bisa terjerumus ke dalam praktek riba. Memang tidak semua cara pembayaran cicilan identik dengan riba. Mencicil akan menjadi riba hanya jika ada selisih harga antara membelinya kontan dan membelinya dengan cara mencicil.
KPR termasuk riba? Jelaslah!
Karena siapa pun yang akan menjadi nasabah program KPR dari bank mana pun akan terlebih dahulu mendapatkan penjelasan tentang simulasi kredit yang di dalamnya akan terucap lugas berapa selisih(baca: bunga) yang mereka minta untuk "bantuan" jasa mencicilkan rumah untuk termin tertentu.
"Terus, kalo mencicil saja tidak diperbolehkan, kapan keluarga saya bisa punya rumah sendiri? Mustahil beli rumah kontan dengan pemasukan pas-pasan!"
Anda sendiri yang bilang mustahil lho.., tapi tidak mustahil bagi Allah. Jika selama ini pemasukan Anda pas-pasan, mungkin itu karena Anda sendiri yang menghendakinya pas-pasan.
Anda kemudian memantapkan kekeliruan paradigma dengan tidak lupa mengambil pembenaran agama jika Allah telah menentukan kadar rejeki bagi makhlukNya. Hemat Anda menyatakan jika kadar rejeki itu tidak akan berubah walau Anda kerja lebih giat dan cerdas.
Anda kemudian memantapkan kekeliruan paradigma dengan tidak lupa mengambil pembenaran agama jika Allah telah menentukan kadar rejeki bagi makhlukNya. Hemat Anda menyatakan jika kadar rejeki itu tidak akan berubah walau Anda kerja lebih giat dan cerdas.
Dan tentang cicilan itu, kembali penulis ingatkan bahwa bukan haram di sisi mencicilnya, tapi mencicil akan berhukum haram jika ada tambahan nominal dari harga asli rumah tersebut. Yakinlah, jika sudah milik Anda, rumah itu tak akan ke mana.
Anda akan mendapatkannya tanpa harus melukai sisi keimanan Anda. Rajin-rajinlah berkeliling kampung, bersilaturahmi dengan siapa saja. Siapa tahu ada orang yang berbaik hati akan menjual rumah keduanya kepada Anda dengan cara mencicil tanpa bunga.
4. Perhatikan status legalitas hukumnya
Ini bukan hanya tentang bagaimana Anda mendapatkan jaminan akan kelengkapan surat-surat tanah dan rumahnya(SHM, IMB, dan PBB), tapi tak kalah pentingnya tentang bagaimana Anda mendapatkan kepastian jika rumah yang Anda incar itu bukanlah rumah yang dibangun di atas tanah sengketa, tanah milik negara, dan tanah yang memang dilarang untuk didirikan bangunan di atasnya. Misal rumah yang dibangun di sepanjang jalur perlintasan kereta api.
Nekat melanggar nasihat ini, nasib Anda tak akan jauh beda dengan nasib para penduduk Jakarta yang rajin digusur oleh pemkot setempat.
5. Ada lagi?
Kiranya masih ada yang bisa ditambahkan demi menyempurnakan artikel ini. Silakan tuangkan ide Anda dalam diskusi di kolom komentar. Saya tunggu...
photo credit: realkerealaproperties.com

0 comments:
Post a Comment