
Bismillaah...
Perhatikan fakta mengiris hati ini:
- Jumlah pezina remaja(kaum pelajar) di Indonesia per 2008 mencapai 63% (data BKKBN)
Respon Anda?
Jelas, fakta di atas adalah musibah umat ini. Anda selayaknya merasa sedih, miris, sekaligus marah besar.
Kemudian?
Apakah pikiran dan emosi Anda akan terdorong untuk lebih mudah mencari kambing hitam?
Anda tak harus mencarinya. Kita bisa dengan mudah mengarahkan telunjuk kita ke satu sudut ruangan untuk mengutuk keras keberadaan situs-situs berplat biru yang selama ini mengampanyekan perzinahan sekaligus mendapatkan keuntungan dari penyediaan konten berplat biru itu.
Merekalah sang terdakwa! Namun apakah setelah kita arahkan telunjuk kita ke arah sana, bencana perzinahan ini otomatis usai?
Merekalah sang terdakwa! Namun apakah setelah kita arahkan telunjuk kita ke arah sana, bencana perzinahan ini otomatis usai?
Tentu tidak. Bencana ini tidak serta-merta sirna sekedar memblokir situs-situs berplat biru.
Mengapa?
Karena mereka hanyalah satu komponen dari rangkaian komponen yang memadu padan membentuk sistem dosa perzinahan.
Apakah para produsen yang iklan produknya mengeksploitasi tubuh wanita tidak termasuk dalam hitungan?
Apakah kekacau-pikiran pemerintah yang horor dalam memberlakukan syariat Islam tidak masuk hitungan?
Dan terus runutlah sampai ke akar-akarnya, maka pada akhirnya kita akan banyak menemukan celah dan kekosongan peran kita selama ini untuk pro aktif melaksanakan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar.
Tidak perlulah kita bahas kembali dosa zina dalam pandangan Islam. Tentu Anda sudah mafhum adanya.
Lalu, setelah sekian lama bencana zinah ini memorak-porandakan kesalehan sosial kita, yang membuat Allah bertubi-tubi menimpakan beragam musibah ke muka tanah air ini, apa yang bisa kita upayakan dalam posisi kita sebagai orangtua?
Ada paling tidak 4 cara yang bisa kita lakukan sebagai bukti bahwa kita tidak ikut tidur dan lalai selama ini.
1. Coret Situs berplat biru dari daftar hiburan kita
Pertama dan utama adalah muhasabah diri. Marilah kita, atas nama Allah yang Maha Mengetahui segala yang dinyatakan dan segala yang disembunyikan, Yang Maha Mengetahui masa lalu kita masing-masing untuk menetapi ketakwaan.
Jika di masa lalu pernah ada di antara kita yang sempat tergelincir menjadi penikmat media berkonten plat biru, jadikan kebiasaan itu tetap menjadi masa lalu.
Jangan kita putar ulang praktek dosa itu. Bencilah media-media berplat biru sebenci kita jika mendapati putra- putri kita menikmatinya.
Jika di masa lalu pernah ada di antara kita yang sempat tergelincir menjadi penikmat media berkonten plat biru, jadikan kebiasaan itu tetap menjadi masa lalu.
Jangan kita putar ulang praktek dosa itu. Bencilah media-media berplat biru sebenci kita jika mendapati putra- putri kita menikmatinya.
2. Mendefinisikan ulang pendidikan seks
Ini bahasan pokok kita. Islam datang dengan kesempurnaan petunjuk. Ketika nabi berucap pesan perpisahan di haji wada, itu mengabarkan kepada siapa saja yang punya kejujuran iman jika paket petunjuk ilahi telah tuntas disampaikan. Tak ada celah dalam kehidupan manusia yang terlewatkan, termasuk pendidikan seks.
Renungkanlah hal ini.
Anda pikir menjelaskan fungsi alat kelamin pria dan wanita, dilengkapi dengan gambar dan animasi pendukungnya adalah pendidikan seks?
Anda pikir menjelaskan resiko ancaman virus HIV yang kemudian menyarankan peserta didik untuk taat menggunakan kondom adalah pendidikan seks?
Anda pikir menjelaskan resiko ancaman virus HIV yang kemudian menyarankan peserta didik untuk taat menggunakan kondom adalah pendidikan seks?
Jelas itu semua pendidikan seks, namun pendidikan seks yang salah kaprah, pendidikan seks yang merivali tuntunan wahyu. Itu pendidikan seks over dosis sekaligus malpraktek. Hasilnya jelas tercipta generasi pezina.
Lalu bagaimana dengan pendidikan seks islami?
Pendidikan seks islami mengandung long tail keyword berikut:
- Adanya "hijab syar'i" sedari dini
- Hijab syar'i ini dimulakan sejak anak berusia sepuluh tahun. Hijab syar'i ini kemudian akan terus mewarnai setiap fase perkembangan tumbuh-kembang anak.
- Adanya pengenalan pemberlakuan syariat islam
- "Perintahkan anak-anakmu untuk shalat pada usia 7 tahun. Dan pukullah pada usia 10 tahun. Dan pisahkan mereka (anak laki dan perempuan) pada tempat tidurnya." (HR Abu Daud)
- Pendidikan seks islami rupanya sebuah pola pendidikan yang di dalamnya sarat akan pengajaran syariat islam, sekaligus mengajarkan nilai tanggung jawab.
- Ketika seorang ayah mengajarkan anaknya bagaimana tata cara salat, mengaji, shoum, dan lainnya, pada hakikatnya ia sedang mengarahkan cara pandang dan pola pikir si buah hati kepada pendidikan seks dalam cakupan luasnya.
- Ada upaya menjaga kehormatan diri (iffah)
- "Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaknya menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya"
- Dalam tataran praktisnya, dijelaskan pada isi surat yang sama pada ayat 30 dan 31, di mana kriteria iffah di sini mencakup menahan pandangan yang berlaku bagi muslim dan muslimah, dan mengenakan jilbab (bukan jilboobs) bagi muslimah.
- Semakin jauh pembahasan iffah ini adalah tentang larang berpacaran (Al-Isro: 32).
- Adanya pengenalan prinsip kepemimpinan
- Kabarkan pula kepada anak perempuan jika ia akan menjadi seorang istri dan ia pun bertanggung jawab atas urusan rumah tangga suaminya.
- Kullukum roo-'in wa kullukum mas-uulun 'an ro'iyyatih (setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanyai terhadap apa yang kalian pimpin). hadist dari Abdullah bin Umar, riwayat Buhkori.
- Anak yang sudah paham prinsip kepemimpinan ini akan mengerti jika kebebasan manusia itu ada batasannya. Batasannya adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah.
- Ia paham jika amanah kepemimpinan ini hanya akan menyelamatkannya selama ia masih berpegang teguh kepada kedua petunjuk di atas.
3. Adanya PR bersama untuk merubah sisdiknas
Serius?!
Anda masih ingat isu buku-buku pelajaran yang sarat akan konten kontoversi?
Kampanye ateisme, anjuran pacaran, memberi tempat akan eksistensi banci, dan sikap permisif terhadap ibu yang boleh melacur untuk bertahan hidup.
Apa pula ini saudara-saudara?! Selamatkan buah hati kita dari sistem pendidikan tak mutu ini!
Walau kemudian ada tindakan pro aktif untuk mencekal buku pelajaran yang dimaksud, namun ini adalah cerminan betapa jelek dan berisikonya para orangtua jika mentah-mentah menyerahkan pendidikan formal anak kepada institusi yang belum terbukti mencetak generasi robbani, yaitu generasi yang senantiasa menjalin kedekatan dengan Al-Quran (Ali Imron:79). Alih-alih malah terbukti berhasil mencetak generasi korupsi, pezina, dan miskin SDM.
Setuju dengan kinerja sisdiknas, itu sama dengan setuju dengan upaya sistematis menjauhkan buah hati dari kitab sucinya. Bayangkan, apakah surga dapat diraih dengan hanya mendapatkan materi agama dua jam pelajaran setiap pekannya?
Anda setuju dengan sisdiknas berarti anda setuju untuk terus bermain-main api neraka.
Dari sini kita mulai paham jika sisdiknas melalaikan peserta didik dari kewajiban memelajari dien Islam tapi kita tiada upaya untuk menghentikan bola kesesatan ini terus bergulir dari generasi ke generasi.
Dan karena kita mengaku lemah untuk dapat merubah sisdiknas, ijinkan kami menawarkan solusi untuk mulai melirik home schooling sebagai media alterntif pendidikan formal.
Tak harus merasa risau tak punya ijasah SD, SMP,SMP, PT, jika nanti sebagai gantinya adalah terciptanya bangunan keimanan si buah hati yang kokoh.
Tak masalah tak pernah kuliah di kampus ternama jika sebagai gantinya adalah kecakapan SDM buah hati yang boleh dicoba.
Tak masalah tak pernah hapal pancasila, undang-undang dasar, dan lagu nasional, jika sebagai gantinya si buah hati bisa mendapatkan kemuliaan seorang hafizh/hafidzah (studi bandinglah dengan kelurga Ustadz La Ode Abu Hanafi Abu Musa, orangtua al-hafidz kecil Musa La Ode Abu Hanafi).
Anda masih ingat isu buku-buku pelajaran yang sarat akan konten kontoversi?
Kampanye ateisme, anjuran pacaran, memberi tempat akan eksistensi banci, dan sikap permisif terhadap ibu yang boleh melacur untuk bertahan hidup.
Apa pula ini saudara-saudara?! Selamatkan buah hati kita dari sistem pendidikan tak mutu ini!
Walau kemudian ada tindakan pro aktif untuk mencekal buku pelajaran yang dimaksud, namun ini adalah cerminan betapa jelek dan berisikonya para orangtua jika mentah-mentah menyerahkan pendidikan formal anak kepada institusi yang belum terbukti mencetak generasi robbani, yaitu generasi yang senantiasa menjalin kedekatan dengan Al-Quran (Ali Imron:79). Alih-alih malah terbukti berhasil mencetak generasi korupsi, pezina, dan miskin SDM.
Setuju dengan kinerja sisdiknas, itu sama dengan setuju dengan upaya sistematis menjauhkan buah hati dari kitab sucinya. Bayangkan, apakah surga dapat diraih dengan hanya mendapatkan materi agama dua jam pelajaran setiap pekannya?
Anda setuju dengan sisdiknas berarti anda setuju untuk terus bermain-main api neraka.
Dari sini kita mulai paham jika sisdiknas melalaikan peserta didik dari kewajiban memelajari dien Islam tapi kita tiada upaya untuk menghentikan bola kesesatan ini terus bergulir dari generasi ke generasi.
Dan karena kita mengaku lemah untuk dapat merubah sisdiknas, ijinkan kami menawarkan solusi untuk mulai melirik home schooling sebagai media alterntif pendidikan formal.
Tak harus merasa risau tak punya ijasah SD, SMP,SMP, PT, jika nanti sebagai gantinya adalah terciptanya bangunan keimanan si buah hati yang kokoh.
Tak masalah tak pernah kuliah di kampus ternama jika sebagai gantinya adalah kecakapan SDM buah hati yang boleh dicoba.
Tak masalah tak pernah hapal pancasila, undang-undang dasar, dan lagu nasional, jika sebagai gantinya si buah hati bisa mendapatkan kemuliaan seorang hafizh/hafidzah (studi bandinglah dengan kelurga Ustadz La Ode Abu Hanafi Abu Musa, orangtua al-hafidz kecil Musa La Ode Abu Hanafi).
4. Tolak pacaran dalam beragam bentuk dan namanya
Ayo ngaku, sebelum nikah apa Anda sempat pacaran? Semoga tidak ada yang mengaku karena memang tidak ada yang berpengalaman dengan itu.
Tapi sepertinya mustahil di antara Anda tidak ada satu pun yang pacaran. Kan pacaran dibolehkan menurut MUI?, MAAF, maksudnya menurut negara.
Karena negara membolehkan praktek pacaran, maka di seantero Indonesia merebaklah golongan pacarist. Ah, ini istilah ngawur saja untuk memudahkan pemaparan topik yang satu ini.
Tapi sepertinya mustahil di antara Anda tidak ada satu pun yang pacaran. Kan pacaran dibolehkan menurut MUI?, MAAF, maksudnya menurut negara.
Karena negara membolehkan praktek pacaran, maka di seantero Indonesia merebaklah golongan pacarist. Ah, ini istilah ngawur saja untuk memudahkan pemaparan topik yang satu ini.
Jadi jika Anda sempat pacaran dan tidak sampai terjerumus kepada zina kelamin, maka bersyukurlah karena berapa banyak kaum pacarist yang berakhir dengan dosa itu. Bersyukur pula karena Allah masih memberikan Anda peluang untuk bertobat.
Namun bagaimana dengan mereka, para pacarist yang sudah lumrah melakukan dosa zina?
Inilah akhir terburuk dari fitnah pacaran. Kami sampai habis kata-kata hendak menyanggah seperti apa. Jelas pacaran dalam bentuk apa pun diharamkan.
Indonesia sejak jaman cindil abang siaga satu terus dari bencana pacaran ini dan akan terus demikian sampai kiamat datang, semoga tidak.
Ketika dua pacarist pacaran, maka iblis menyimpan detonator dosa zina kelamin kepada kedua pasangan itu. Itu detonator utama, dan sialnya ada banyak detonator dosa zina turunannya.
Ketika dua pacarist saling adu pandang, satu detonator kecil mendapatkan sinyal peledakan, lalu tercatatlah dosa zina ain bagi kedua mempelai haram itu.
Ketika dua pacarist saling lempar kata sayang, maka satu detonator kecil kedua mendapatkan sinyal ledakan, tercatatlah dosa zina lisan bagi keduanya.
Kejadiannya akan serupa untuk ledakan dosa zina qolbi (hati) dan zina yadin (tangan). Jika kemudian yang tersisa tinggal detonator terbesar, maka kedua pacarist tinggal tunggu kesempatan untuk meledakkan zina yang sesungguhnya.
Namun bagaimana dengan mereka, para pacarist yang sudah lumrah melakukan dosa zina?
Inilah akhir terburuk dari fitnah pacaran. Kami sampai habis kata-kata hendak menyanggah seperti apa. Jelas pacaran dalam bentuk apa pun diharamkan.
Indonesia sejak jaman cindil abang siaga satu terus dari bencana pacaran ini dan akan terus demikian sampai kiamat datang, semoga tidak.
Ketika dua pacarist pacaran, maka iblis menyimpan detonator dosa zina kelamin kepada kedua pasangan itu. Itu detonator utama, dan sialnya ada banyak detonator dosa zina turunannya.
Ketika dua pacarist saling adu pandang, satu detonator kecil mendapatkan sinyal peledakan, lalu tercatatlah dosa zina ain bagi kedua mempelai haram itu.
Ketika dua pacarist saling lempar kata sayang, maka satu detonator kecil kedua mendapatkan sinyal ledakan, tercatatlah dosa zina lisan bagi keduanya.
Kejadiannya akan serupa untuk ledakan dosa zina qolbi (hati) dan zina yadin (tangan). Jika kemudian yang tersisa tinggal detonator terbesar, maka kedua pacarist tinggal tunggu kesempatan untuk meledakkan zina yang sesungguhnya.
Antisipasi kita sebagai orangtua, jika anak kita sudah terlihat gelagat beuger (sunda: menampakkan ketertarikan diri kepada lawan jenis) mulailah bangun pemahaman yang benar tentang pergaulan Islam, sekaligus sampaikan dengan pendekatan terbaik untuk tidak memenuhi diri dengan profil seorang pacarist.
Akhirnya, dari pemaparan di atas, ijinkan kami untuk menarik kesimpulan yang berkaitan dengan pesan judul di atas, bahwa pendidikan seks islami adalah:
Akhirnya, dari pemaparan di atas, ijinkan kami untuk menarik kesimpulan yang berkaitan dengan pesan judul di atas, bahwa pendidikan seks islami adalah:
- Upaya panjang para orangtua mengenalkan detil Islam kepada si buah hati.
- Upaya panjang para orangtua memahamkan si buah hati akan pribadi yang bertanggung jawab.
- Upaya panjang para orangtua membantu untuk menjaga ke-iffah-an si buah hati hingga Allah menyampaikannya menuju gerbang pernikahan.
- Pendidikan kelamin yang tersirat, yaitu bukan tentang memahamkan si buah hati fungsi fisiologis organ reproduksi, tapi lebih kepada pendewasaan kejiwaan menyikapi fitrah diri menyukai lawan jenis.
Walau pun demikian kebutuhan anak akan informasi fungsi organ reproduksi akan mereka dapatkan juga pada ilmu fiqih bab thoharoh. - Menegaskan jika pacaran itu haram.(Semoga Allah mudahkan kita untuk melaksanakan poin yang satu ini)

0 comments:
Post a Comment